aku menamakan mu senja

aku menitipkan hatiku kepadamu tetapi kau sendiri tak mampu menjejakkan kaki mu tetap disebuah titik
lalu bagaimana aku bisa percaya??

Sabtu, 17 Desember 2011

untuk mu wahi senjaku


Pekat otakku jika berpikir sering menghabiskan waktu bahkan malam dan tengah dini hari hanya dengankata-kata dan berdiam dalam untaian kalimat-kalimat yang tak pernah kau mengerti. “Kenapa kau nyaman dalam buaian huruf-huruf itu?” Bah…..lalu apa yang harus aku lakukan ? menghitung menikmati setiap detik waktu 24 jam dengan mimpi yang tak pernah kau setujui?. Apakah ini yang disebut kehidupan ? dan berapa lama aku harus sanggup bertahan? Membebaskan pikiranku hanya lewat catatan-catatan kecilku ini. Apakah kau pernah mempertanyakan apa yang kulakukan menunggu hingga tengah malam atau sekedar mengucapkan, “Selamat senja cinta…..”, karena kita sangat jarang menikmati senja bersama-sama. Atau bahkan kau tak pernah tau jika aku mencintai senja. Sedangkan dia lebih memahami bahasa yang aku ungkapkan. 

Mungkin kita tak pernah bisa memahami dunia kita masing-masing. Duniaku yang penuh khayalan dan duniamu yang penuh kelogikaan. Dan aku berusaha untuk mengkubur semua khayalanku untuk masuk kedalam duniamu yang tak pernah kupahami. Sakit….tapi berusaha untuk mampu untuk memahami. Tapi sulit dan sampai detik ini pun tetap tak mampu kupahami. Kau kekasihku……tapi orang lain bagiku? Semga saja tidak saat kau mau belajar sedkit saja untuk membahagiakanku. Ataukah kau mempunyai cara sendiri untuk mencintaiku? Atau karena kau tak pernah merasakan kehilangan? Bahkan aku sering mempertanyakan apakah yang akan kau lakukan jika kehilanganku? Tetap dalam kediamanmu? sudah berapa lama aku perbincangakan pertanyaan dan pernyataaku ini padamu. Dan kau? hanya diam! Entahlah……..karena rasa ini hanya ada antara aku dan kamu. Aku lelah………

Kau tak butuh diriku aku patung bagimu 
Cinta bukan kebutuhanmu

Kau tau…..aku ingin menjadikanmu inspirasi. Menjadi nama pengisi puisi-puisiku, menjadi dasar dan jiwa catatan-catatanku. Melukisnya ditiap dinding-dinding duniaku. Tapi tak bisa. Aku tak bisa menemukan rasa itu disana. Ketika kau selalu palingkan muka dari kesibukanku mengmpulkan kata-kata yang terhempas dari kesepianku. Tak suka atau tak memahmi? Karena kau tak pernah mengatakan jujur. “Apakah kau nyaman dalam tumpukan kata-katamu, dian”, tanyamu sambil menghela nafas berat. Aku terdiam dan sedikit mengangguk dan entah apa kau bisa membaca anggukanku itu. Apakah ini caram mengngkapkan cinta dan aku tak bisa memenerimanya? Entahlah……karena rasa ini hanya ada antara aku dan kamu. Dan kau…teruskanlah dengan duniamu!